space-time continuum
|
space-time continuum
|
|
This is my corner in the universe where I celebrate my life by sharing my experiences & thoughts on everything I care about, including trivia, jokes, & my love affair with Fred, my husband, my best friend.*c-line
My Favorite
Previous Post
|
2/6/10Kesederhanaan yang Indah1956, California.Seorang profesor muda, Murray Gell-Mann mengendarai mobilnya pulang ke Pasadena setelah memberikan kuliah Fisika Teori di Universitas California. Sang istri, Margaret duduk di sebelahnya berbusana elegan; rok, sweater, stocking dan sepatu tumit tinggi. Saat mobil melintasi Rute 99, dekat Tejon Pass, bagian dari pegunungan Tehachapi yang menghubungkan bagian utara dan tengah California, Prof. Murray melayangkan pandangan ke atas, berharap menangkap sosok burung kondor California. Tiap kali melintasi daerah itu, atap mobil convertible-nya memang selalu dibiarkan terbuka. Tiba-tiba, di atas sana sesosok burung besar terbang rendah, lalu segera menghilang di balik bukit di sisi kanannya. Prof. Murray terkesiap, "Apakah itu yang aku cari selama ini?" Meski tidak yakin, ia memutuskan berhenti. "Tunggu di sini, ya," katanya kepada Margaret, lalu meraih binokuler, loncat dari mobil, dan berlari ke atas bukit. Setengah perjalanan menuju puncak bukit, lumpur merah tebal mengotori pakaian Prof. Murray. Saat ia menoleh ke belakang, "Oh, tidak!" Margaret ternyata mengikutinya, gaunnya pun diselimuti lumpur. Bersama, mereka akhirnya mencapai dataran bukit yang cukup tinggi. Di bawah sana, pemandangan yang dramatis. 11 burung kondor California tengah berpesta mengelilingi bangkai seekor anak sapi. Dengan penuh minat, Prof. Murray mengamati sosok mereka yang berukuran besar dengan panjang sayap terbentang hampir tiga meter, kepala yang botak berwarna cerah, serta warna hitam dan putih tubuh mereka yang khas. "Wow, coba perhatikan!" serunya pada Margaret."Burung kondor yang satu itu kehilangan beberapa bulu di sayap kirinya. Dan yang di sana, ada celah tajam di ekornya." Prof. Murray tertegun. Tidak seekor burung pun yang bulu tubuh atau ekornya tampak sempurna. Akibatnya, burung yang satu dapat dengan mudah dibedakan dari yang lain. "Ini pasti konsekuensi dari berbagai insiden yang mereka alami selama hidup." Menuruni bukit, Prof. Murray sibuk dengan pemikirannya. Pemandangan yang baru disaksikannya, karakter individual burung kondor yang berbeda satu sama lain, meninggalkan kesan mendalam. "Betapa dunia ini penuh dengan individu, baik benda hidup atau mati yang masing-masing memiliki sejarah dan kisah hidup yang unik." katanya setengah bergumam. *** 1989, Chan Chich. Sesosok hewan berwarna gelap, berukuran cukup besar tiba-tiba membuyarkan lamunan dan menghentikan langkah Prof. Muray. "Jaguarundi!" ucapnya pelan. Di depan sana, di tengah jalan setapak yang sedang dilaluinya, kucing hutan itu berdiri menghadang, matanya menatap tajam sang Profesor. Ketika itu, Prof. Murray sedang menikmati kesendirian di tengah rimbunnya hutan di sekitar Chan Chich, sebuah kota di negara Belize, terletak di antara Meksiko dan Guatemala. Kecintaannya pada kehidupan alam bebas, serta ketertarikannya mempelajari situs-situs kuno peninggalan peradaban suku Maya telah membuatnya akrab dengan flora dan fauna hutan tropis di Amerika Tengah. Meski tidak merasa terancam, Prof. Murray berhati-hati mengatur gerak tubuhnya. Ia melangkah maju perlahan dan berhenti pada jarak yang cukup untuk mengamati karateristik tubuh hewan itu lebih detil. Tengkorak kepala yang datar. Kaki yang relatif pendek dibanding panjang tubuhnya yang hampir satu meter. Selama beberapa saat, kedua makhluk itu berdiri mematung dan saling tatap. Jaguarundi akhirnya berjalan pelan lalu menghilang di kegelapan rimba. Prof. Murray tersenyum menyadari keberuntungannya dapat menikmati pemandangan langka itu. Selain termasuk hewan pemalu, jaguarundi tercatat dalam daftar merah hewan yang dilindungi. Jumlahnya sudah berkurang drastis karena habitat alaminya di Amerika selatan dan tengah kian rusak. Ini diperparah dengan sifat khusus hewan itu yang tidak mampu berkembangbiak dalam penangkaran. Bukan tak mungkin, sebentar lagi kucing hutan itu hanya bisa ditemukan di buku sejarah. "Ya, tiap makhluk memiliki kisah hidup dan sejarahnya sendiri," Prof. Murray bergumam. Ingatannyapun kembali ke pengalamannya menyaksikan karakter individual burung kondor puluhan tahun yang silam di California. "Hey! Bukankah sebelum ada jaguarundi tadi, aku sedang memikirkan unsur sejarah dan individualitas dalam Mekanika Kuantum?" Selama bertahun-tahun lamanya, Prof. Murray memiliki dua hasrat intelektual yang sepertinya terpisahkan. Selama ini, ia mengira hanya ada satu persamaan di antara keduanya, yaitu keindahan alam, "the beauty of nature". Ia terhenyak menyadari bahwa hukum-hukum fisika fundamental di satu sisi dan dunia kondor, jaguarundi, peninggalan sejarah bangsa Maya di sisi lain, akhirnya menemui titik temu. *** 2010, Chicago. Bus CTA 22 dari stasiun Howard tujuan Downtown merayap pelan membawa Alya pulang. Kedua belah penyapu di jendela bus bergerak ke kanan kiri menyingkirkan salju yang jatuh tak henti. Alya memandang keluar jendela. Jam enam lebih sedikit, tapi langit sudah gelap sekali. Matahari memang sudah tenggelam sekitar jam empat tadi. Alya melepas sarung tangan tebalnya, lalu mengeluarkan pena dan notes kecil dari ranselnya. Banyak hal yang sedang ada dalam benaknya. Ia ingin bisa merekam hal-hal menarik yang barangkali muncul tiba-tiba. Saat bus berhenti di halte untuk mengangkat seorang penumpang, angin dingin masuk ke dalam. Alya menggosok kedua telapak tangan dan merapatkan jaketnya. Tidak banyak penumpang di dalam bus. Semua tampak kedinginan meski sudah berjaket tebal dan bus pun dilengkapi pemanas. Suhu hari ini sudah beberapa derajat di bawah titik beku. Memang belum masuk kategori membahayakan. Masih dua digit, belum satu atau minus derajat Fahrenheit. Tapi, di radio dan TV tadi pagi sudah ada peringatan bahwa hujan salju akan turun disertai angin dingin yang kencang. Warga dianjurkan tinggal di rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Cuaca buruk hampir saja membatalkan niat Alya menghadiri kuliah umum di Universitas Northwestern siang tadi. Dirinya memang tidak wajib hadir karena ia bukan mahasiswa universitas bergengsi itu. Namun, kuliah itu terbuka untuk umum dan gratis. Judul dan pembicaranya amat menarik, "Simplicity and Complexity" oleh Prof. Murray Gell-Mann, pemenang hadiah nobel Fisika 1969 dan tokoh yang pertama kali mengusulkan istilah "Quark" untuk nama partikel elementer pembentuk inti atom. Sudah beberapa kali Alya menghadiri kuliah umum yang dibawakan oleh fisikawan ternama atau peraih nobel fisika. Hasilnya, ia ketagihan. Dirinya ibarat elektron yang menerima energi lalu tereksitasi ke tingkat yang lebih tinggi. Hati dan pikirannya selalu dipaksa merenung, mengusik zona nyaman kehidupannya. Dalam hati Alya mengakui, hidupnya saat ini begitu nyaman, namun rasanya belum stabil. Masih ada yang kurang. "Hidup seperti apa yang sebenarnya aku inginkan?" tulis Alya dalam notesnya. Jemarinya lalu memutar-mutar pena, pandangannya dibuang jauh keluar jendela. Pikirannya menerawang, melompat-lompat. Salju... gelap... dingin... Ah! satu-satunya hal yang Alya suka dari musim dingin adalah saat salju turun di pagi hari dan matahari bersinar cerah dan ramah. Sejauh mata memandang, semua tampak putih bersih, sangat indah. Dan, Alya selalu mengagumi permukaan tumpukan salju yang rata dan simetris mengikuti lekuk bidang yang ditutupinya. Seakan-akan tiap butir salju mengerti di mana mereka harus jatuh dan uniknya, hampir tidak mungkin ada dua kristal salju yang identik. "Alam memang penuh dengan fenomena dan obyek menarik yang masing-masing memiliki karakter individu dan kisah hidupnya sendiri," gumam Alya. Alya jadi ingat cerita Prof. Murray tentang pengalamannya mengamati burung kondor California, serta renungannya tentang sejarah dan individualitas ketika bertemu jagurundi di hutan Amerika tengah. Ia mengagumi Prof. Murray yang tiada lelah mencari jembatan penghubung antara fisika dan kehidupan alam bebas. Dua dunia yang terwakili oleh istilah "Simplicity and Complexity", seakan terpisah di dua kutub berlawanan, namun ternyata terkait erat satu sama lain. Kata-kata Prof. Murray terngiang lagi ditelinganya. Dalam teori fisika partikel, obyek seperti elektron identik satu sama lain, di manapun berada. Partikel elementer pembentuk segala sesuatu di alam semesta ini ternyata tidak memiliki individualitas. Akan tetapi, hukum-hukum Mekanika Kuantum yang bekerja di ranah partikel elementer sesungguhnya mengijinkan munculnya individualitas. Evolusi fisik alam semesta yang bekerja berdasarkan hukum-hukum itu telah melahirkan bumi, planet, matahari, dan obyek lain yang tersebar di seluruh kosmos. Lalu menghasilkan kondor, jaguarundi dengan kemampuan beradaptasi. Tak ketinggalan, manusia yang mampu membangun peradaban yang kompleks dan menemukan hukum-hukum alam itu. "Kehidupan dunia yang begitu rumit, kompleks, ternyata didasari oleh hukum fisika, hukum fundamental alam yang sederhana,” tulis Alya di lembar notesnya. Alya teringat filosofi sains yang dimiliki Paul Dirac, fisikawan yang ikut membidani kelahiran Mekanika Kuantum Relativistik: "Hukum-hukum fisika haruslah memiliki keindahan dan kesederhanaan matematis". Lihat saja persamaan relativitas umum Eistein atau persamaan Elektromagnetik Maxwell yang memiliki pola sederhana. Namun, dibalik kesederhanaan itu terkandung sejarah yang unik dan makna yang dalam hasil dari kerja keras dan pemikiran yang panjang. Sebuah kesederhanaan yang indah. Itu dia! Seru Alya dalam hati. "Aku sebenarnya ingin hidupku sederhana namun indah. Aku yakin, ini yang akan membuat hidupku bahagia." Alya melanjutkan tulisannya. "Kadang aku merasa seperti makhluk asing di tengah teman-teman, bahkan keluargaku sendiri karena aku tidak tertarik dengan konsep bahagia yang dipaksakan oleh sistem kapitalis," jemari Alya bergerak cepat menarikan penanya. "Tawa bahagia orang-orang itu dengan berbagai barang mewah, trendi, dan mahal bagiku tampak semu, tidak meyakinkan. Kenyataannya, semua itu tidak pernah bisa mencerminkan karakter individualku, perasaan dan pikiranku yang sebenarnya. Tidak membuatku bahagia. Jadi, apa gunanya membuang energi hanya untuk menumpuk kemewahan? Aku ingin hidup sederhana dan harta yang ingin aku kumpulkan adalah karya yang sarat makna dan mampu membuat dunia mengerti siapa diriku sebenarnya." Tiba-tiba, "Pemberhentian berikutnya, halte Edgewater!" suara otomatis bus mengagetkan Alya. Wah, tidak terasa sudah hampir sampai rumah. Alya memasukkan pena dan notes ke dalam ransel, mengenakan kembali sarung tangan, memasang scarf-nya hingga menutupi hidung dan mulutnya, berdiri dan siap-siap turun bus. Tiba di halte, pintu bus terbuka otomatis. "Terima kasih," kata Alya kepada supir. Alya melompat turun. Salju tebal dan angin kencang yang menyambutnya tidak ia hiraukan. Bibirnya kini menyungging senyum. Di benaknya telah muncul ide sebuah karya yang akan dibuatnya segera begitu sampai di rumah. Karya yang akan merefleksikan segala hasrat yang dimilikinya. Karya yang akan menjadi harta berharga dalam hidupnya. Alya yakin, hanya itu yang akan membuat hidupnya lengkap dan sempurna. Hidup yang sederhana namun indah. Chicago, 6 Februari 2010 Sumber inspirasi dan cerita: The Quark and the Jaguar : Adventures in the Simple and Complex oleh Murray Gell-Mann Labels: Physics
|
![]() Label
Subscribe to |
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home
Subscribe to Post Comments [Atom]