"Greetings. Assalaamu'alaikum, Wrwb. May Peace be Upon You. Welcome to my website."
This is my corner in the universe where I celebrate my life by sharing my experiences & thoughts on everything I care about, including trivia, jokes, & my love affair with Fred, my husband, my best friend.*c-line
My Favorite
PaperBackSwap.com - Book Club to Swap, Trade & Exchange Books for Free.

Previous Post

 
4/13/10

Perempuan Melawan Kemiskinan (Bag.1)

Perempuan A berasal dari desa dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga kaya. A diperlakukan baik, bahkan kemudian menikah dengan B, supir keluarga itu. Sayangnya, meski berpenghasilan pas-pasan, B mempraktekkan poligami yang tidak sesuai syariat agama. Istrinya banyak sampai tak jelas berapa jumlahnya. Anak-anaknya pun terlantar.

Beberapa tahun kemudian, A dan B kesulitan mencari kerja karena keluarga kaya itu bangkrut. Kabar terakhir dari A, ia berniat menikahkan anak gadisnya yang masih di bawah umur dan tinggal bersama neneknya di desa. Mungkin A menganggap ini jalan terbaik untuk meringankan beban kemiskinan yang ditanggungnya.

Perempuan C lahir dari keluarga kaya di ibukota. Ayah dan ibunya bekerja di perusahaan besar dan kemudian memiliki perusahaan sendiri. Sayangnya, beberapa tahun kemudian perusahaan keluarga itu bangkrut. Di tengah himpitan beban ekonomi, perbedaan prinsip kedua orang tuanya memperburuk keadaan. Sang ayah, meski kesulitan mencukupi nafkah keluarga, tetap menuntut istri selalu di rumah, telaten melayani suami dan merawat anak-anak. Sementara sang ibu yang bertipe perempuan mandiri dan tidak suka diatur suami, kerap meninggalkan keluarga untuk mencari uang selama berhari-hari.

Cekcok keduanya tidak pernah berhenti, bahkan berujung KDRT. Keluarga C akhirnya benar-benar terpuruk dalam kemiskinan. Untuk makan sehari-hari dan biaya pendidikan, C bersaudara harus bergantung pada belas kasihan orang lain. Ada masa dimana C begitu putus asa akan masa depannya. Sebagai perempuan, ia merasa pilihannya terbatas dan beban hidupnya sangat berat.

Dua potret perempuan di atas, meski berasal dari dua kutub berbeda memiliki benang merah yang sama; perempuan cenderung merasakan dampak kemiskinan lebih parah dari laki-laki.

Banyak perempuan harus bekerja keras memenuhi nafkah keluarga yang tidak tercukupi oleh suami. Tidak jarang, mereka juga didaulat sebagai tulang punggung orang tua membiayai adik-adiknya. Ini diperparah tuntutan suami untuk tetap melayaninya serta merawat anak-anak. Alhasil, banyak perempuan yang merasa babak belur didera kewajiban demi kewajiban. Sementara laki-laki seakan diberi keleluasaan untuk lebih menikmati haknya daripada dituntut menunaikan kewajibannya.

Untuk melawan ketidaksetaraan gender ini perlu gerakan pemberdayaan perempuan, gerakan yang menggugah kesadaran perempuan untuk tidak segan, malas, takut memperjuangkan hak-haknya. Sayangnya, gerakan ini seringkali mengalami penolakan keras dari banyak elemen Islam. Padahal mayoritas muslim percaya, Islam memerdekakan perempuan dan menempatkan mereka pada posisi mulia.

Penolakan ini memang bukan tanpa sebab. Gerakan pemberdayaan perempuan seakan terfokus pada isu feminisme atau emansipasi perempuan yang berbenturan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya, kampanye wanita karir yang mendorong perempuan untuk bekerja sebagai jalan terbaik keluar dari kemiskinan. Padahal ini salah sasaran dan tidak perlu.

Dalam komunitas miskin dan berpendidikan rendah, fenomena perempuan bekerja sudah ada secara alami. Begitu menginjak dewasa, mereka hanya punya dua pilihan: menikah atau bekerja. Beruntung jika mereka bisa menikah dengan laki-laki kaya raya, baik, bertanggung jawab. Sebaliknya, sudah menikah atau belum, mereka tetap akan bekerja dan karena keterbatasan pendidikan, mereka hampir pasti terpuruk di posisi marjinal, seperti buruh pabrik atau pembantu rumah tangga.

Dalam Islam, perempuan kaya atau miskin dibolehkan, namun tidak dianjurkan dan diwajibkan bekerja mencari nafkah. Yang dibebani kewajiban mencari nafkah adalah laki-laki. Ini bisa dipandang sebagai perlindungan agama terhadap perempuan miskin dari pekerjaan fisik maha berat yang hanya akan mengekalkan penderitaan mereka.

Sementara itu, Islam mewajibkan umatnya menuntut ilmu tanpa batasan gender, status kaya-miskin, usia, dan tempat. Ini yang layak diangkat sebagai tema utama gerakan pemberdayaan perempuan. Pendidikanlah yang akan memberi perempuan posisi tawar yang lebih baik, lebih banyak pilihan hidup, serta kebijakan memberdayakan semua potensi dan kesempatan yang dimilikinya.

Karena itu, semua pihak termasuk aktivis perempuan dan aktivis Islam harus memadu kekuatan menuntut pemerintah menciptakan program yang menjamin pendidikan bagi perempuan. Wakil rakyat harus didesak memperjuangkan program insentif, beasiswa dan uang saku bagi perempuan miskin, istri, dan ibu rumah tangga untuk menempuh pendidikan tinggi.

Lalu, bagaimana jika pemerintah belum juga memberi perhatian khusus bagi pendidikan perempuan? Ada berbagai cara bagi perempuan untuk berjuang melawan kemiskinan agar terpenuhi kesejahteraan lahir dan batin.

Pertama, hargai pendidikan.

Harus disyukuri, saat ini sudah banyak perempuan yang dapat menikmati pendidikan dasar dan menengah. Sayangnya masih ada perempuan yang menganggap pendidikan itu tidak penting. Ada yang pasrah tidak melanjutkan pendidikan karena kendala biaya. Ada yang terpengaruh pandangan masyarakat akan pendidikan bernuansa kapitalis; tujuan pendidikan dianggap semata-mata menciptakan tenaga kerja dan karena tugas perempuan berputar di kamar tidur, sumur, dan dapur, maka pendidikan tidak dibutuhkan.

Padahal, tujuan utama pendidikan adalah memuliakan manusia yang menurut agama sebaik-baik makhluk. Perempuan adalah sosok yang tepat untuk berperan dalam hal ini. Posisi dan potensi perempuan sangat strategis untuk merekrut "pengikut" dan menyiarkan ilmu dan agama pada manusia sejak masih bayi, bahkan dalam kandungan. Jadi, bukan slogan kosong jika ada pepatah mengatakan, perempuan adalah tiang agama dan bangsa. Pendidikan perempuan adalah kuncinya.

Karena itu, selain mengubah pandangan terhadap tujuan pendidikan, perempuan juga perlu menguatkan tekad melanjutkan pendidikan melawan segala tantangan dan rintangan. Pintu-pintu kesempatan hanya bisa dibuka oleh niat dan usaha kuat. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya. (QS. 13: 11).

Sekalipun sudah menikah, tidak ada alasan bagi perempuan untuk berhenti melanjutkan pendidikan atau membekali diri dengan ilmu dan ketrampilan. Dalam Islam, Aisyah adalah sosok perempuan yang harus diteladani. Beliau istri terakhir nabi yang menikah dalam usia sangat muda. Namun demikian, beliau juga dikenal sebagai istri nabi paling cerdas dan menjadi guru bagi kaum laki-laki.

Seorang ibu dari Pakistan yang kini tinggal di Chicago, AS, juga bisa jadi teladan. Di kampus, ia sering terlihat berjalan beriringan dengan anak gadisnya berusia 18 tahun. Orang sering mengira mereka pasangan kakak-adik. Sang ibu tampak muda karena masih berusia 34 tahun. Ia menikah, memiliki anak dalam usia 16 tahun. Berkat dorongan dan dukungan dari suami, ia kini bersemangat melanjutkan pendidikan dan menikmati aktivitas di kampus bersama anak perempuannya.

Ada banyak kisah perempuan lain yang dengan segala keterbatasannya berhasil meraih pendidikan tinggi dan hidup sejahtera. Nafkah lahir batinnya tercukupi oleh suami dan ia tetap bebas berkarya, beramal, menyumbangkan ilmu, ide, dan gagasan di tengah masyarakat seperti halnya laki-laki, sesuai perintah agama (QS. 3:104, 4:124, 9:71-72, 16:97).

Kedua, sadari hak memilih pemimpin.

Di samping lemahnya niat melanjutkan pendidikan, ada perempuan yang ingin segera menikah dengan harapan bisa hidup stabil, aman, nyaman, sejahtera. Keinginan ini tentu sah-sah saja, tapi akan sulit terwujud jika perempuan menikah dipaksa atau sukarela dengan laki-laki yang tidak baik baginya.

Dalam Islam, laki-laki adalah pemimpin perempuan (QS 4:34). Tapi, adakah larangan bagi perempuan untuk menentukan sendiri calon suami atau pemimpinnya? Tidak. Perempuan tidak boleh dipaksa menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya (QS 4:19). Perempuan boleh memilih bahkan mengajukan pinangan lebih dulu kepada laki-laki yang diinginkannya. Teladan yang terkenal adalah Siti Khadijah, istri pertama dan yang paling dicintai Nabi Muhammad SAW. Khadijah mengirim utusan untuk meminang Rasul karena terpikat pribadinya yang mulia.

Untuk menggunakan hak pilih ini, perempuan tentu harus berhati-hati, tidak boleh mengandalkan perasaan belaka dan mengabaikan akal sehat jika tidak ingin celaka (QS 10:100). Logikanya, kita tidak boleh memberi kepercayaan kepada sembarang orang untuk menjadi pemimpin yang akan bertanggung jawab atas hidup kita hari ini dan masa depan. Salah memilih, yang didapat bisa-bisa diktator dan koruptor.

Laki-laki yang patut dipilih tentu ia yang baik agamanya. Tapi, bukan berarti perempuan boleh tertipu dengan penampilan fisiknya semata. Seperti halnya perempuan berjilbab, bukan berarti laki-laki berjenggot, berdahi hitam, bersorban otomatis menegakkan Islam. Mereka yang menegakkan Islam adalah ia yang juga menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan dunianya. Beberapa kualitas yang harus dimiliki laki-laki ini di antaranya:

1. Pekerja keras, karena ia sadar akan kewajibannya mencari nafkah yang cukup untuk istri dan anak-anaknya.

2. Taat dan konsisten terhadap idealismenya, karena ia hidup bukan termotivasi kenikmatan dunia.

3. Tidak takut dengan calon istri berpendidikan lebih tinggi, bahkan mendukung dan memotivasi istri untuk terus melanjutkan pendidikan. Ini karena ia sadar, posisi suami tetap sebagai pemimpin dalam keluarga, setinggi apapun pendidikan istri.

4. Membatasi pergaulan dengan perempuan yang bukan muhrim, serta berbakti dan tidak menyakiti ibu, istri, saudara perempuannya baik secara fisik maupun emosional, karena ia meneladani Nabi Muhammad SAW dalam memperlakukan perempuan.

Hadits Rasulullah: “Yang terbaik di antara manusia adalah yang terbaik sikap dan perilakunya terhadap kaum perempuan.”

Laki-laki idaman seperti ini memang tidak banyak bisa kita temui. Untungnya, perempuan boleh meminang laki-laki yang sudah beristri. Tidak ada larangannya dalam Islam. Laki-laki yang justru dilarang meminang perempuan bersuami (QS 4:24) dan laki-laki boleh berpoligami (QS 4:3).

Adakah laki-laki yang lebih baik selain yang dibanggakan dan secara ikhlas ditawarkan oleh istri-istrinya untuk dipinang lagi oleh perempuan lain?

Sayangnya, banyak sekali perempuan yang begitu mudah terpikat pada laki-laki yang belum apa-apa sudah mengumbar rayuan dan uang. Bahkan, ada perempuan yang senang dan bangga dirayu pria genit yang sudah berkeluarga. Padahal, calon pemimpin yang baik dan bertanggung jawab adalah sosok yang tidak suka berjanji palsu, menyogok pemilihnya, apalagi berkhianat pada orang-orang terdekatnya.

Bersambung ke Perempuan Melawan Kemiskinan (Bag.2)

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home

Subscribe to Post Comments [Atom]