space-time continuum
|
space-time continuum
|
|
This is my corner in the universe where I celebrate my life by sharing my experiences & thoughts on everything I care about, including trivia, jokes, & my love affair with Fred, my husband, my best friend.*c-line
My Favorite
Previous Post
|
8/5/10Bahaya Infotainment (Belajar Dari Kasus-Kasus di AS)Akhirnya, Chelsea Clinton (CC) menikah juga. Leganya!Mengapa saya ikut lega dengan berakhirnya pesta pernikahan putri tunggal pasangan Hillary dan Bill Clinton itu? Sodara juga bukan. Alasannya, saya sudah tidak tahan 'dipaksa' menelan berita-berita pesta nikah CC yang diliput besar-besaran selama berhari-hari. Setiap lihat berita TV, dengar berita radio, baca berita Internet, lagi-lagi pernikahan CC. Bahkan, beritanya berskala Internasional, bisa ditemukan juga di Kompas.com, detik.com, Tempo.com. Padahal, saya tidak pernah dengar sebelumnya prestasi CC yg layak dapat liputan media seheboh ini. Kata suami, "she's an American royalty, a princess. That's why!" LOL! Kalau memang segala hal terkait Clinton begitu penting hingga patut dapat perhatian media luas, mengapa media skala nasional dan internasional tidak meliput gedung rumah sakit tempat kelahiran Hillary Clinton yg sudah bertahun-tahun terbengkalai? Lokasinya dekat tempat tinggal saya, sekarang jadi tempat tidur gelandangan dan aksi kriminal. Foto Rumah Sakitnya bisa dilihat di sini: Edgewater Media Center http://www.flickr.com/phot Keterangan foto: Edgewater Medical Center was built in the 1940s and 60s. Both John Wayne Gacy and Hillary Rodham Clinton were born here. The facility has been closed and abonded since 2001 after many of its doctors were found guilty of Medicare fraud. Liputan yang pernah masuk media lokal, Chicago Tribune, adalah tentang kecurigaan publik pada pemda yang menyalahgunakan kekuasaannya. Istrinya yang developer ditengarai mendapat keuntungan besar dari pembangunan rumah-rumah di bekas lahan parkir RS itu, sementara gedung RSnya tdk diurus. Padahal, warga setempat sebenarnya ingin lahan parkir itu dijadikan taman bermain anak2. Baca: Ald. Patrick O'Connor case study 2: Wife sole agent for Edgewater Square http://www.chicagotribune. Bukankah berita semacam itu yang layak masuk slot berita nasional dan internasional? Sedangkan dari pernikahan CC, informasi berguna apa yang bisa diambil? Orang-orang sibuk membahas siapa perancang gaunnya, daftar undangan, tenda, bunga, kue, dana yang akan dihabiskan, blah-blah-blah... Bukankah semua itu hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial di tengah masyarakat AS yang masih dihimpit kesulitan ekonomi? Seperti dikeluhkan Elisabeth Hasselbeck pada Obama di acara THE VIEW (29 Juli 2010), masih banyak orang Amerika yang kehilangan pekerjaan. Bagaimana pula dengan mereka yang harus kehilangan mata pencaharian akibat tumpahan minyak BP di Teluk Mexico? Memang ini bukan kesalahan CC dan orang tuanya. Mereka sudah berkali-kali menyatakan ini privasi, rahasia, tapi media terus mengejar, seolah-olah semua orang di dunia ingin tahu detil-detil pesta pernikahannya. Obsesi Mainstream Media (MSM) AS terhadap infotainment memang keterlaluan. Infotainment tidak hanya muncul di program-program TV khusus, tapi juga bertebaran di program-program berita serius berskala nasional dan internasional. Semula, saya merasa tak ada masalah. Tapi, lama-lama terganggu juga dibombardir infotainment terus-menerus dengan topik yang sama dibahas sedetil-detilnya. Saya juga mulai merasa ganjil dengan kenyataan, media-media serius kerap mengadopsi berita dari agen-agen paparazzi penghasil berita gosip. Akibatnya, saya mulai sangsi dengan kualitas berita-berita MSM AS. Apakah yang sebenernya diperjuangkan? Saya tidak bilang, jurnalis-jurnalis AS tidak bermutu. Tapi, apakah mereka bekerja di bawah tekanan kepentingan bisnis pemilik media-media tersebut? Infotainment jelas-jelas meningkatkan rating. Tapi, berita seputar SARA dan terorisme juga sangat laku dijual di AS. Apakah mungkin pola pemberitaan infotainment juga dipakai untuk menyajikan isu-isu penting dan sensitif itu? Media Education Foundation dalam videonya berjudul "Rich Media, Poor Democracy" menyebutkan pemodal-pemodal besar di balik MSM AS, lalu memaparkan ciri-ciri media yang sehat dalam alam demokrasi, serta menghubungkan infotainment dengan berita-berita serius dan sensitif seperti Perang Irak. Rich Media, Poor Democracy http://www.youtube.com/wat Dijelaskan di sana, pola pemberitaan infotainment yang High Sensationalism, Low Information, dan dijamin laku keras bukan tidak mungkin menyebabkan dunia jurnalistik melemah, cenderung hanya menyajikan berita-berita ringan seputar selebriti, anggota kerajaan, dll. Konsep liputan politik yang seimbang dianggap semata-mata menyodorkan mike ke mulut kedua pihak yang berseteru, bukan menyajikan dan memeriksa berbagai pendapat untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ini bisa jadi persoalan serius jika topik yang diangkat sangat penting dan sensitif seperti perang terhadap terorisme. Robert W. McChesney, pakar komunikasi dari UIUC, Illinois, mengatakan, "The type of war coverage we see in the United States is exactly what you'd expect with a system dominated by a handful of very wealthy coorporations". Sekalipun para pemimpin bangsa adalah orang-orang yang paling bijak, rasional, rasanya tidak mungkin mempengaruhi atau dipengaruhi cara kerja media, namun hal ini tetap berbahaya dalam kehidupan berdemokrasi. Kenyataannya, pola liputan ala infotainment baru-baru ini memakan korban dalam kabinet Obama. Menteri pertanian AS secara sepihak memecat pegawainya, Shirley Sherrod lewat pesan singkat ketika ia sedang berkendara di jalan. Pemecatan ini akibat fitnah berbau SARA yang dimuat dalam website milik seorang aktivis konservatif, Andrew Breitbart. Fitnah ini kemudian disebarkan media tanpa investigasi lebih dulu, dan dianggap serius oleh kabinet Obama. Setelah kebenaran terungkap, gedung putih pun mengaku salah dan meminta maaf. Sementara Breitbar dengan dukungan koleganya merasa tidak bersalah, tidak mau minta maaf meski sekarang sedang dituntut ke pengadilan oleh Sherrod. Simak: http://www.youtube.com/wat Belum lama ini di Indonesia ada diskusi seru soal Infotainment, hingga MUI akhirnya mengeluarkan fatwa haram Infotainment. Tidak sedikit tanggapan masuk, menganggap masalah Infotainment hanya terletak pada pada kemampuan pemirsa memilih menonton atau tidak. Padahal, pola liputan infotainment yang High Sensationalism, Low Information secara alami akan menarik perhatian siapapun, tidak peduli orang berpendidikan tinggi atau tidak, suka infotaiment atau tidak. Sosok seleb terkenal, cantik/ganteng, keturunan raja tetap bisa jadi sumber berita berkualitas jika etika jurnalistik diterapkan. Sementara, mereka yang populer hanya karena tingkah-lakunya yang selalu kontroversial, akan menjadi ancaman bagi demokrasi jika mereka mencalonkan diri sebagai caleg dan terus-menerus mendapat liputan media. Jadi, bahaya sebenarnya Infotainment adalah ketika banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat tidak mampu lagi menilai baik-buruk kualitas sebuah produk jurnalistik. Masyarakat seperti ini rentan propaganda. Labels: Jurnalistik, living in america
|
![]() Label
Subscribe to |
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home
Subscribe to Post Comments [Atom]